Ingatan Lika

Sudah satu jam setengan Lika berdiri di sini, dari banyak orang berlalu-lalang sampai sekarang hanya semut yang sedang memandanginya ia tak kunjung bergerak satu senti pun.

Kamu di mana sih, Ga. tanyanya cemas dalam hati

Lika masih belum bergerak dari tempatnya sampai ia sadar seseorang memandanginya dari balik pohon besar di seberang jalan sana. Ia bertambaha cemas sambil mengucap sumpah serapah kepada lelaki yang berjanji mejemputnya, tapi lelaki itu belum kunjung sampai.

Kalau aku sampai kenapa-napa, aku gak akan maafin kamu. Gerutuhnya

Lika tidak mau memandangi orang yang memperhatikannya itu. Namun, ia tahu bahwa ia masih diperhatikan. Sesekali ia balik memandang sosok di balik pohon itu dan mendapati sosok itu masih menatap ke arahnya dengan tajam, dengan cepat ia langsung menyembunyikan wajahnya. Lelaki itu masih belum juga sampai, Lika hanya sendirian ditemani semut dan sosok di seberang jalan sana. ia melihat sosok diseberang jalan sana mulai mendekat dan bermaksud untuk menyebrang ke arahnya. Lika paniK dan langsung menyetop taksi yang lewat di sebelahnya, sesaat sebelum ia memasuki taksi itu lengannya terasa disentuh dan dengan sigap ia berteriak sekencang-kencangnya.

“AAAKKKKK!!!!”

“Hus! Kamu tuh apa-apaan sih, Lik? Ko teriak-teriak kayak gitu, emang aku hantu?”

“Aga! Kamu ke mana aja?” ucap Lika setenang mungkin namun wajahnya masih terlihat panic.

“Maaf, tadi aku ada kelas tambahan dulu jadi gak bisa langsung jemput.” Aga memeluk Lika, wajahnya terlihat sungguh-sungguh

“Eee… yaudah, kita langsung pulang aja ya, aku takut di sini.” Lika membalas pelukan Aga tanpa sanggup menutupi rasa paniknya.

“Yaudah-yaudah, kita pulang, yuk!”

“Maaf ya, Pak.” Ucap Aga kepada supir taksi yang diberhentikan Lika.

“Lho, aku lupa udah manggil taksi. Maaf ya, Pak, saya gak jadi naik.” Ucap Lika meras atidak enak hati

“Iya, Neng, gak papa. Si Mas-nya lain kali jemput pacarnya tepat waktu ya, nanti pacarnya kenapa-napa.” Si supir taksi tersenyum lalu pergi.

Aga menatap Lika dengan penuh tanda tanya. Namun, Lika mengisyaratkan agar mereka harus segera pergi dari tempat.

Mobil Aga terparkir sudah terparkir di halaman rumah Lika, tadinya ia ingin mengajak Lika keluar sebentar. Namun, Lika sudah terkihat kacau sejak ia menjemputnya di sekolah tadi. Aga hanya ingin mengetahui apa penyebab Lika menjadi seperti sekarang ini. Ia ingin bertanya lagi setelah Lika selesai menyegarkan badannya.

Cappuccino yang disiapkan Lika sebelum ia mandi sudah tinggal setengah cangkir habis diminum Aga. ia masih kepikiran tentang Lika yang sebegitu ketakutannya.

   Apa mungkin Lika bertemu…

“Hai, Sayang!” sapa Lika yang langsung duduk di sebelahnya, Aga tersentak sedikit disusul suara tawa Lika yang melihat ekspresi kaget Aga.

“Hahahaahaha, kamu kenapa, Ga?”

“Kamu mah rese ya!” Aga mengelus kepala Lika manja.

“Untung aku sayang” lanjutnya sambil mencium kening Lika mesra

Lika selalu suka dengan sikap manis Aga yang diberikannya. Aga adalah sosok lelaki yang sempurna menurut matanya walu terkadang terlalu sering untuk telat dalam sebuah janji. Ia pernah menunggu Aga sampai 3 jam pada malam tahun baru lalu, tapi ia tidak bisa marah. Bagaimana tidak, Aga dating dengan bunga tulip pink-nya, bunga yang sangat disukai Lika. Lalu Aga akan berkata “Maaf ya, Sayang aku telat.” Hanya itu kata-kata yang selalu Aga ucapkan apabila telat mengahdiri janji dengan Lika, Lika yang sudah terbiasa dengan sikap Aga sudah tidak heran lagi. Namun, ia masih tidak bisa mengerti mengapa ia tidak pernah membenci lelaki ini, malah rasa sayangnya kian besar dan ia sudah berandai-andai bagaimana bila sisa hidupnya ia habiskan dengan Aga.

Lika hanya tersenyum lalu membenarkan posisi duduknya.

“Aku mau nanya, Sayang. Boleh?” tanya Aga memecah kesunyian

“Anything for ya’, Ga. Apa?”

“Tadi siang kamu kenapa ketakutan banget gitu?” Aga bertanya dengan hati-hati

“Ohh itu, tadi aku ngeliat ada orang yang merhatiin aku terus di seberang jalan.” Lika mulai bercerita tanpa tersirat kecemasn di wajahnya. “Syukurlah” batin Aga.

“Aku gak kenal orang itu, Ga. Aku takut dia orang jahat, mana aku tinggal sendirian pula di sana.”

“Kamu sih jemputnya lama” ucap Lika sambil memukul bahu Aga pelan. Aga yang sudah paham dengan gelagat marah-marah-manja sang kekasihnya itu langsung merangkul dan mendekatkan Lika ke arahnya.

“Yaudah, maaf yaa.” Ucap Aga, Lika mengikuti gerakan mulut Aga seakan sudah kebal. Namun, lagi-lagi ia tidak merasa kesal sedikitpun

“Ciri-ciri orangnya kayak gimana?” tanya Aga penasaran

“Orangnya tinggi, rambutnya agak kribo-kribo gitu, kalau warna kulit aku gak tau, aku gak mau terlalu merhatiin. Takut.”

“Tapi, aku sempet lihat dia pakai celana abu-abu juga. Kayaknya masih anak sekolahan deh, kalau dia macam-macam kamu panggil temen-temen kuliah kamu aja suruh habisin dia.” Lanjut Lika, geram. Sepertinya ia memang benci sekaligus takut dengan orang itu

“Hus! Kamu tuh main ngehabisin orang aja, emangnya dia makanan.”

“Udah, besok-besok kamu nunggu akunya di kelas aja, ya, nanti aku yang samperin.” Aga berjanji, wajahnya begitu sungguh-sungguh sekaligus khawatir dengan Lika.

Lalu pikirannya mengawang akan sosok yang dicirikan oleh Lika, sepertinya ia mengenalnya. Ia tidak mungkin salah, ia sudah 9 tahun bertetangga dengan orang itu. Ia juga alumni dari sekolah tempat orang yang membuat Lika takut bersekolah.

    Itu pasti Hadi, ia pasti merindukan Lika. batin Aga menebak.

Hadi adalah pria yang juga mencintai LIka, ia mencintai Lika lebih dulu daripada Aga. Aga berteman sejak 9 tahun lalu, walaupun umur mereka tidak sebaya, tapi Hadi dan Aga selalu akrab. Sampai suatu peristiwa membuat mereka harus menjaga jarak.

Ini semua karena Lika. Lika-lah yang menjadi alasan Hadi dan Aga harus menjaga jarak, mereka harus menjaga jarak demi kesehatan Lika. Dua tahun lalu, tepat saat anniversary kedua hubungannya dengan Hadi, Lika masuk rumah sakit. Sakit kepalanya sudah tidak bisa lag ia tahan. Lika segera dilarikan ke UGD oleh orang tuanya dengan disusul Hadi dan Aga yang saat itu masih berstatus teman dekat mereka berdua. Hadi terlihat begitu panik melihat orang terkasihnya tidak mampu bergerak sedikitpun. Semenjak kejadian itu Ia berjanji akan terus mendampingi dan melindungi Lika sampai kapanpun, ia tidak ingin bidadari hatinya terluka sedikitpun.

12 jam berlalu dan akhirnya Lika mulai sadar, ia meminta kedua orang tuanya untuk menemaninya di ruangan itu. Sejak saat itu Lika mulai takut kesendirian, padahal siapapun yang mengenali Lika sejak lama tahu bahwa Lika adalah gadis yang sangat pemberani dan mandiri, tak jarang ia pergi sendiri kemanapun. Hadi selalu menentang sikap terlalu mandiri Lika, tapi Lika selalu tersenyum dan berkata “nanti, kalau kita udah nikah terus kamu dinas ke luar kota masa iya aku harus nelpon kamu cuma buat nemenin aku belanja di pasar atau benerin pagar rumah.” Yang akan disusul oleh pelukan hangat Hadi. Sejak Lika sadar, Hadi belum bertemu dengannya karena ia harus menyusul les-lesnya untuk Ujian Nasional nanti.

3 hari kemudian Hadi baru bisa bertemu dengan Lika, ia diminta untuk menjaga Lika oleh orang tua Lika karena mereka ingin membereskan pekerjaan merekan selama menjaga Lika di rumah sakit. Hadi sangat antusias, ia amat-sangat merindukan bidadarinya. Saat Hadi datang Lika sedang tertidur, wajahnya lembut sekali seperti bidadari. Hadi mencium kening Lika pelan agar bidadarinya tidak terganggu dalam tidurnya. betapa ia merindukan gadisnya ini, ia sungguh menyayangi Lika. Ia tak akan pernah melepaskannya.

“Hadi, kamu ngapain?” tanya Lika pada pagi harinya

Hadi tersentak dari tidurnya “Eh, kamu udah bangun, Sayang?” jawabnya sambil menjepitkan rambut Lika di telinga.

Lika masih tak bersuara. Wajahnya kebingungan. Diperhatikannya sekeliling kamar rumah sakit tempat ia semalaman dirawat, ia tidak mengingat sama sekali kejadian apa yang telah menimpanya. Baru saja Hadi ingin menjawab pertanyaan gadisnya itu, Ibu Lika menghampiri mereka berdua.

“Lika, kamu sudah sadar, Nak?” tanya Ibu Lika sembari memeluk anaknya, sayang.

“Bu, aku boleh ngomong sama Ibu? Berdua?” ada tekanan di kalimat terakhir Lika sehingga membuat Hadi langsung menatap keduanya dan beranjak pergi tanpa diaba-abai.

Waktu terus berjalan, fisik Lika semakin membaik. Ia hanya dirawat dua hari. Namun, seminggu setelahnya, Lika seperti mempunyai masalah kesehatan lain di dirinya. Belakangan ini ia sering mengalamai disorientasi. Lika selalu telat datang ke sekolah, lupa mengerjakan PR, dan tugas, bahkan ia hampir terancam tidak bisa ikut Ujian Nasional karena ia datang terlambat. Untung saja Lika masih bisa lulus walau dengan nilai yang pas-pasan. Kondisi Lika makin memperihatinkan, ia mulai melupakan orang-orang terdekatnya, Hadi pun menjadi daftar orang yang tidak lagi diingat Lika sedikitpun. Hadi tidak mengetahuinya sama sekali tentang ingatan Lika, semenjak Lika sadar dari pingsannya waktu itu, Hadi tidak diperkenankan orang tua Lika untuk menemui Lika lagi. Pada tanggal spesial mereka berdua, Hadi hendak menemui Lika di rumahnya tapi ia malah mendapati Aga yang sedang duduk santai merangkul Lika. Bunga tulip pink kesukaan Lika pun jatuh begitu saja dari tangan Hadi, memecah kesunyian yang ada di ruangan itu.

Mereka berdua terperanga melihat kehadiran Hadi, terlebih lagi Aga. Bagaimana tidak, niat Aga mendatangi rumah Lika adalah untuk mengembalikan ingatan Lika tentang Hadi agar mereka dapat bersatu kembali, tapi Lika tidak menghiraukan Aga tentang ceritanya. Lika menganggap kehadiran Aga dengan bunga tulip pink di tangannya adalah kunjungan kekasih yang biasa dilakukan sepasang muda-mudi yang tengah dimabuk asmara. Waktu itu Aga ingin menolak pelukan Lika dan memberitahukan yang sebenarnya. Namun, orang tua Lika yang melihat mereka diam-diam dari balik tangga mengisyaratkan Aga agar tetap tidak memberitahu apa-apa. Hadi beranjak dari rumah Lika dengan perasaan yang tidak akan bisa ia gambarkan dengan kata-kata lagi.

Keesokan harinya, Aga membuat janji untuk bertemu Hadi, ia ingin menyelesaikan ketidakjelasan ini.

Pukul 22.00 WIB di bilangan Kemang ,Jakarta. Aga mendapati Hadi yang tengah duduk menopangkan dagu di satu tangannya.

“Di…” sapa Aga mencoba ramah sambil megulurkan tangannya. Beberapa detik. Dan tangannya masih tak disambut. Aga mengambil posisi duduk di depan Hadi. Ada kikuk di antara mereka berdua.

“Gue mau jelasin semuanya” ucap Aga membuka kesunyian di antara mereka.

Hadi membenarkan posisi duduknya, masih tak menatap Aga. matanya kosong, seakan hanya ada kebencian di sana.

“Lika sakit, Di.”

Hadi masih saja bungkam, sepertinya memang tidak ada lagi kata kasihan atau simpatiuntuk mereka berdua.

“Dia kena Dimensia Alzheimer.” Lanjut Aga. Hadi terbelalak mendengar ucapan Aga.

“Kemarin gue datang ke rumah Lika mau ngelurusin hubungan elo. Gue kasihan sama lo berdua, terutama elo, Di. Gue tahu lo cinta banget sama Lika. Makanya gue gak tega kalau kalian kayak gitu terus.”

“Tapi pas gue datang Lika malah menyambut gue seolah gue itu elo. Saat gue mau nolak pelukan Lika, gue diisyaratin sama orang tuanya untuk gak ngelakuin dan ngomong macam-macam dulu. Semalem Liak ngebahas hal-hal yang gak gue tahu dan gue yakin banget itu adalah hal-hal indah yang elo lakuin sama dia. Dia muji gue karena gue bawa tulip pink kesukaan dia, padahal gue aja tahu itu dari elo.”

“Terus kenapa gak ada yang ngasih tau gue, Ga?” tanya Hadi, kesal. Ada marah, kecewa, sekaligus sedih di matanya. Marah karena mengapa harus Aga yang Lika ingat sebagai kekasihnya, kecewa mengapa tidak ada satupun yang memberitahunya, dan sedih mengapa pula harus bidadari cantiknya yang mengidap penyakit itu. Hadi tak kuasa menahan kecewanya. Ia keluar dari kafe tempat ia dan Aga bertemu dengan langkah gontai sekaligus marah. Diraih helm dam jaketnya secara kasar, dinyalakannya mesin motor 250cc miliknya, digas dua kali lalu ia tak terlihat lagi.

Aga segera mengejar Hadi, khawatir bila teman baiknya itu akan mengambil tindakan bodoh. Ia tahu betul Hadi bukanlah sosok yang gampang terpancing amarah, tapi ia juga tahu bahwa Hadi akan berbahaya jika emosinya sudah tidak bisa dibendung. Mobil Aga berhasil menjegat motor Hadi. Aga segera turun dan menghantam wajah Hadi dengan pukulan penuh tenaga dari tangannya. Hadi membalas, lalu Aga tak membalasnya. Hadi menghantam sekali lahi bagian perut Aga, tapi Aga tak membalas lagi.

Hadi berhenti memberikan tinju kepada teman dekatnya, ia sadar apapun yang ia lakukan kepada Aga malam ini tidak akan pernah membuat ingatan Lika tentangnya kembali. Bahkan sekalipun ia membunuh Aga dengan tangan kosongnya sendiri, ia sadar bahwa Lika tidak akan kembali memeluknya.

“Lo mau tau kenapa gak ada yang ngasih tahu lo?” tanya Aga sambil menahan darah segar yang keluar dari hidungnya.

“Orang tua Lika tahu kalau elo mencintai anaknya dengan tulus. Dia gak mau lo kecewa dan bertindak gegabah. Mereka gak mau keadaan anaknya bertambah buruk. Dan soal Lika gak inget lo dan malah inget gue, gue pun gak paham.” Papar Aga

“Kalau lo gak suka, gue akan bilang sama orang tuanya Lika kalau gue gak bisa terus-terusan begini dan gue pun akan ngelejasin pelan-pelan ke Lika yang sebenarnya kalau gue…”

“Jangan!” Hadi memotong pembicaraan Aga.

“Gue cinta sama Lika, Ga. Gue gak akan mungkin sanggup lihat dia menderita lebih dari ini. Kalau memang dia bahagia dengan menganggap lo sebagai kekasihnya, gue ikhlas. Asal lo janji sama gue lo gak akan pernah bikin dia kecewa.” Jelas Hadi sambil terduduk lemas di samping motornya. Pandangannya kosong entah menatap apa dari atas flyover Jakarta yang lengang.

“Di…” Aga berusaha menghampirinya, tapi ia mengurungkan niat.

“Elo yakin?” tanya Aga menegaskan semuanya agar tidak ada lagi kesalah pahaman di antara mereka.

“Gue yakin, gue akan ngejagain Lika dari jauh, sementara dari deket gue minta elo buat lindungin dia selalu.” Ucap Hadi dengan sungguh-sungguh.

Aga tak lagi mengeluarkan satu katapun. Semenjak saat itu Hadi menjauhinya, ia tahu Hadi tak membencinya, Hadi hanya ingin Lika baik-baik saja. Aga juga tak pernah menyinggung tentang Hadi kepada Lika, ia tahu itu akan memperburuk kesehatan Lika. Sedangkan, ia sudah berjanji kepada Hadi untuk selalu melindungi Lika. Aga menepati janjinya, ia mempunyai kesabaran yang luar biasa. Menghadapi penyakit Lika tidak semudah yang ia bayangkan, selalu disalahkan dalam ketepatan waktu menjemput selalu ia rasakan, padahal jamnya sudah ia lebihkan 30 menit. Penyakit Lika-lah yang melenyapkan ingatannya. Penyakit Lika-lah yang menghadirkan jarak antara dua sahabat. Penyakit Lika-lah yang menelan habis indahnya kenangannya bersama Hadi. Penyakit Lika-lah yang meluluhlantakan seorang Hadi. Penyakit Lika-lah yang membuat Aga menjadi mencintainya. Penyakit Lika-lah yang membuat Hadi akhirnya bisa bertemu dengan bidadarinya lagi di tempat indah ini. Penyakit Lika-lah yang akhirnya membuat Hadi tersenyum kembali. Menyaksikan pernikahan Aga dan Lika dan datang dengan status sebagai teman dari Araga Prastama.

Fau’s

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s