Valentine Trivia

Selamat tanggal 14!

Selamat Hari Valentine!

Selamat setahunan!

Ehe.

Berhubung banyak banget yang ikut Valentine Trivia ini, gue pun jadi tertarik mau ikutan *mumpung lagi punya pacar*. Mungkin sebagian yang ikutan ini sudah banyak yang menikah beda sama gue yang baru menginjak angka setahunan pacaran. Namun di hari ini setidaknya gue mau mengingatkan lagi ke pacar gue “Hai, Nu! :p” beberapa hal yang mungkin dia lupa atau sama sekali gak dia sadarin.

Kalo kalian gak kuat sama chessy love story……. ya baca dulu ajalah sampe habis.

Here you go!

1. Anniversary?
Harusnya 14 Februari 2016, tapi gue hampir lupa ngasih jawaban karena sibuk dan baru jawab besokannya. Pas gue jawab gue baru sadar dan bilang “kenapa gak kemarin aja ya biar pas sama Valentine?” doi cuma jawab “auk amat”. Mau ngakak rasanya terus kita sepakat buat ngerayain di tiap tanggal yang seharusnya yaitu tanggal 14. Yeay!

2. First date?
Cafe Dessert Jepang daerah Danau Sunter pas sama-sama pulang dari kantor, bertiga pula sama adik gue. Bhahaha.

3. How did you first meet?
Broadcast BBM dong, sodara-sodara~~~~
Pin gue disebar dan yang gue terima undangan pertemanannya cuma doi doang karena ternyata dia temennya temen deket gue.

4. What is “your song” together?
Kayaknya gak ada deh selera musik gue sama dia beda banget macem laut sama langit. Gue udah pop punk abis dia…. yagitu, tapi aku cinta ko. Mwah!

5. Do you remember the first movie?
Yas! Ngenest karya Ernest Prakasa.
Nontonnya bertiga sama temen gue, dia ngaret parah janjian jam berapa datang jam berapa. Film udah mulai doi baru datang. Pas film mulai, frekuensi ketawa dia bisa gue hitung dengan jari-jari di satu tangan, gue hampir mau mention Ernest nanya ini film komedi apa thriller. Pas pulang rok gue sobek naik vespa dia gerimis pula.

It was unforgettable moment!

6. First road trip together?
Insha Allah Jogja bulan Maret nanti (kalau gak ada halangan lagi) (ya Allah please jangan ada halangan lagi)

7. Do you have kids?
Ya Allah baru setahunan cyinnn..

8. Which of you is older?
Bagas. Satu tahun di atas gue doang sih, cuma dia kayak pacaran sama anak SMP aja. Hahaha.

9. Who was interested first?
Tentu Bagas. Dari cuma kenal di BBM dan ngotot ngajak ketemu terus, tapi selalu gue tolak dengan alasan “nanti-nanti aja deh” atau tiap dia mau jemput gue selalu bilang “gak usah bisa sendiri ko”. Mhehehe.

10. More sensitive?
Elisa “sensitive” Nurfauziah.
Sekian dan terima sogokan es krim beserta pelukan kalo lagi alay.

11. Worst temper?
Dua-duanya. Bagas bisa ngomel kayak emak-emak PMS belum dikasih uang bulanan sama suami kalau lagi macet. Gue bisa ngoceh panjang kali lebar kali tinggi setiap ngerasa sendirian, tapi setelah sepuluh menit akan kembali seperti biasa dan lupa semua marahnya. Emang dah pasangan bunglon gampang bener berubah.

12. Who is the funniest?
Boleh ganti tergaring gak sih? Bagas jawabannya. Garing yang lucu. Gemes. Kadang kalau dia lagi ngelucu terus gue sama sekali gak ketawa tuh ekspresinya gemesin minta digigit pipinya.

13. More social?
Bagas Indardo Nugroho.
Doi banyak ikut organisasi, temennya banyak. Gue paling banter kumpul sama temen SMA gue empat orang. Enggak introvert cuma gue memegang teguh pedoman Less Social Less Bullshit.

14. More stubborn?
Kita berdua. Gak usah ditanya kalo lagi sama-sama keras kepala gimana. Kacau :)))

15. Woke up first?
Berdasarkan waktu chat dan telepon, Bagas adalah orang yang cepet tidur dan paling lama bangun daripada gue.

16. Has the bigger fams?
Bagas of course. Keluarga dia kalau digabungin bisa bikin negara sendiri kayaknya.

17. Eats the most?
YA BAGAS LAH!
Dia kalo makan bisa sampai nambah dua piring ini serius gak bohong sedangkan gue adalah tipe orang yang makan dikit udah kenyang dan otomatis setiap gue makan pasti jarang banget habis dan ya kalian tahu kepada siapa makanan gue itu bermuara.

18. Who said I LOVE YOU first?
Pasti Bagas karena gue amat sangat sungguh tidak mungkin. Gengsian bok maklum Leo. x))

19. Holds the remote?
Dikarenakan gue gak suka-suka amat nonton TV, jadi dia yang pegang remote.

20. Better cook?
Kita berdua cuma bisa masak Indomie sama telur goreng.

21. More romantic?

Romantis tuh:
Yang tiba-tiba dateng pas gue lagi sakit dan bukan bawain buah malah bawain Richeesse level empat
Yang tiba-tiba bawa tulip setelah seminggu sebelumnya nanya “pernah dikasih bunga gak”?
Yang selalu bilang I love you kalo mau tutup telpon
Yang gak pernah absen cium kening
Yang tiba-tiba suka cium-cium pipi
Yang selalu bilang “aku ikut kamu aja deh mau nonton apa juga asal kamu seneng” padahal gue tau kadang dia gak suka filmnya dan di dalam malah tidur
Yang selalu jadi tempat nangis
Yang selalu bilang gue gendutan, tapi gak boleh diet (ini nyebelin sih)
Yang tiap di mobil selalu curi-curi pegang dan cium tangan pas lagi nyetir terus sesaat kemudian dilepas karena harus ganti gigi
Yang selalu percaya gue bisa ngelakuin semua yang gue mau
Yang selalu sabar walau diambekin dan dijudesin kayak gimana pun.

Kalau bener begitu berarti Bagas orang yang cukup romantis. Ehe.

Dia yang selalu support kalau gue lagi drop banget kalau gue lagi gak pede sama diri sendiri. Cuma dia yang tahu semua cerita di hidup gue beserta sisi tergelapnya. Selalu ngasih petuah bijak even kadang gue suka sebel karena dia terlalu sok tahu tentang semuanya. Gue sama dia berantem hampir setiap hari gak tau kenapa pokoknya ada aja yang harus diperdebatkan. Gue terlalu sensitive dia cuek abis. Cuma gue salut dia selalu bisa menghadapi dengan kepala dingin bahkan  saking dinginnya kadang pengen gue siram air panas biar mencair dikit. It’s not the end, It is our beginning. I love you, Nu!

Aku ingin menulis puisi
Di dalamnya kau kubiarkan mati
Aku ingin menulis puisi
Biar rindu ini sampai ke dasar hati
Aku ingin menulis puisi
Yang semoga dibaca suatu saat nanti
Aku ingin menulis puisi
Tak usah macam-macam diksi, yang penting kau mengerti.

Aku ingin menulis puisi
Walau katakanlah ia tak akan pernah peduli
Aku ingin menulis puisi
Tentang kehilangan dan patah hati
Aku ingin menulis puisi
Dari pagi, sampai pagi lagi
Aku ingin menulis puisi
Supaya mereka tahu lemahnya jiwa ini.

Aku ingin menulis puisi
Yang ada ucapan terima kasih
Aku ingin menulis puisi
Dengan pena hadiah dari sang kekasih
Aku ingin menulis puisi
Dengan punggungmu menjadi pengganti kayu jati
Aku ingin menulis puisi
Di dalamnya, kau kubiarkan mati.

Fau.

Ingatan Lika

Sudah satu jam setengan Lika berdiri di sini, dari banyak orang berlalu-lalang sampai sekarang hanya semut yang sedang memandanginya ia tak kunjung bergerak satu senti pun.

Kamu di mana sih, Ga. tanyanya cemas dalam hati

Lika masih belum bergerak dari tempatnya sampai ia sadar seseorang memandanginya dari balik pohon besar di seberang jalan sana. Ia bertambaha cemas sambil mengucap sumpah serapah kepada lelaki yang berjanji mejemputnya, tapi lelaki itu belum kunjung sampai.

Kalau aku sampai kenapa-napa, aku gak akan maafin kamu. Gerutuhnya

Lika tidak mau memandangi orang yang memperhatikannya itu. Namun, ia tahu bahwa ia masih diperhatikan. Sesekali ia balik memandang sosok di balik pohon itu dan mendapati sosok itu masih menatap ke arahnya dengan tajam, dengan cepat ia langsung menyembunyikan wajahnya. Lelaki itu masih belum juga sampai, Lika hanya sendirian ditemani semut dan sosok di seberang jalan sana. ia melihat sosok diseberang jalan sana mulai mendekat dan bermaksud untuk menyebrang ke arahnya. Lika paniK dan langsung menyetop taksi yang lewat di sebelahnya, sesaat sebelum ia memasuki taksi itu lengannya terasa disentuh dan dengan sigap ia berteriak sekencang-kencangnya.

“AAAKKKKK!!!!”

“Hus! Kamu tuh apa-apaan sih, Lik? Ko teriak-teriak kayak gitu, emang aku hantu?”

“Aga! Kamu ke mana aja?” ucap Lika setenang mungkin namun wajahnya masih terlihat panic.

“Maaf, tadi aku ada kelas tambahan dulu jadi gak bisa langsung jemput.” Aga memeluk Lika, wajahnya terlihat sungguh-sungguh

“Eee… yaudah, kita langsung pulang aja ya, aku takut di sini.” Lika membalas pelukan Aga tanpa sanggup menutupi rasa paniknya.

“Yaudah-yaudah, kita pulang, yuk!”

“Maaf ya, Pak.” Ucap Aga kepada supir taksi yang diberhentikan Lika.

“Lho, aku lupa udah manggil taksi. Maaf ya, Pak, saya gak jadi naik.” Ucap Lika meras atidak enak hati

“Iya, Neng, gak papa. Si Mas-nya lain kali jemput pacarnya tepat waktu ya, nanti pacarnya kenapa-napa.” Si supir taksi tersenyum lalu pergi.

Aga menatap Lika dengan penuh tanda tanya. Namun, Lika mengisyaratkan agar mereka harus segera pergi dari tempat.

Mobil Aga terparkir sudah terparkir di halaman rumah Lika, tadinya ia ingin mengajak Lika keluar sebentar. Namun, Lika sudah terkihat kacau sejak ia menjemputnya di sekolah tadi. Aga hanya ingin mengetahui apa penyebab Lika menjadi seperti sekarang ini. Ia ingin bertanya lagi setelah Lika selesai menyegarkan badannya.

Cappuccino yang disiapkan Lika sebelum ia mandi sudah tinggal setengah cangkir habis diminum Aga. ia masih kepikiran tentang Lika yang sebegitu ketakutannya.

   Apa mungkin Lika bertemu…

“Hai, Sayang!” sapa Lika yang langsung duduk di sebelahnya, Aga tersentak sedikit disusul suara tawa Lika yang melihat ekspresi kaget Aga.

“Hahahaahaha, kamu kenapa, Ga?”

“Kamu mah rese ya!” Aga mengelus kepala Lika manja.

“Untung aku sayang” lanjutnya sambil mencium kening Lika mesra

Lika selalu suka dengan sikap manis Aga yang diberikannya. Aga adalah sosok lelaki yang sempurna menurut matanya walu terkadang terlalu sering untuk telat dalam sebuah janji. Ia pernah menunggu Aga sampai 3 jam pada malam tahun baru lalu, tapi ia tidak bisa marah. Bagaimana tidak, Aga dating dengan bunga tulip pink-nya, bunga yang sangat disukai Lika. Lalu Aga akan berkata “Maaf ya, Sayang aku telat.” Hanya itu kata-kata yang selalu Aga ucapkan apabila telat mengahdiri janji dengan Lika, Lika yang sudah terbiasa dengan sikap Aga sudah tidak heran lagi. Namun, ia masih tidak bisa mengerti mengapa ia tidak pernah membenci lelaki ini, malah rasa sayangnya kian besar dan ia sudah berandai-andai bagaimana bila sisa hidupnya ia habiskan dengan Aga.

Lika hanya tersenyum lalu membenarkan posisi duduknya.

“Aku mau nanya, Sayang. Boleh?” tanya Aga memecah kesunyian

“Anything for ya’, Ga. Apa?”

“Tadi siang kamu kenapa ketakutan banget gitu?” Aga bertanya dengan hati-hati

“Ohh itu, tadi aku ngeliat ada orang yang merhatiin aku terus di seberang jalan.” Lika mulai bercerita tanpa tersirat kecemasn di wajahnya. “Syukurlah” batin Aga.

“Aku gak kenal orang itu, Ga. Aku takut dia orang jahat, mana aku tinggal sendirian pula di sana.”

“Kamu sih jemputnya lama” ucap Lika sambil memukul bahu Aga pelan. Aga yang sudah paham dengan gelagat marah-marah-manja sang kekasihnya itu langsung merangkul dan mendekatkan Lika ke arahnya.

“Yaudah, maaf yaa.” Ucap Aga, Lika mengikuti gerakan mulut Aga seakan sudah kebal. Namun, lagi-lagi ia tidak merasa kesal sedikitpun

“Ciri-ciri orangnya kayak gimana?” tanya Aga penasaran

“Orangnya tinggi, rambutnya agak kribo-kribo gitu, kalau warna kulit aku gak tau, aku gak mau terlalu merhatiin. Takut.”

“Tapi, aku sempet lihat dia pakai celana abu-abu juga. Kayaknya masih anak sekolahan deh, kalau dia macam-macam kamu panggil temen-temen kuliah kamu aja suruh habisin dia.” Lanjut Lika, geram. Sepertinya ia memang benci sekaligus takut dengan orang itu

“Hus! Kamu tuh main ngehabisin orang aja, emangnya dia makanan.”

“Udah, besok-besok kamu nunggu akunya di kelas aja, ya, nanti aku yang samperin.” Aga berjanji, wajahnya begitu sungguh-sungguh sekaligus khawatir dengan Lika.

Lalu pikirannya mengawang akan sosok yang dicirikan oleh Lika, sepertinya ia mengenalnya. Ia tidak mungkin salah, ia sudah 9 tahun bertetangga dengan orang itu. Ia juga alumni dari sekolah tempat orang yang membuat Lika takut bersekolah.

    Itu pasti Hadi, ia pasti merindukan Lika. batin Aga menebak.

Hadi adalah pria yang juga mencintai LIka, ia mencintai Lika lebih dulu daripada Aga. Aga berteman sejak 9 tahun lalu, walaupun umur mereka tidak sebaya, tapi Hadi dan Aga selalu akrab. Sampai suatu peristiwa membuat mereka harus menjaga jarak.

Ini semua karena Lika. Lika-lah yang menjadi alasan Hadi dan Aga harus menjaga jarak, mereka harus menjaga jarak demi kesehatan Lika. Dua tahun lalu, tepat saat anniversary kedua hubungannya dengan Hadi, Lika masuk rumah sakit. Sakit kepalanya sudah tidak bisa lag ia tahan. Lika segera dilarikan ke UGD oleh orang tuanya dengan disusul Hadi dan Aga yang saat itu masih berstatus teman dekat mereka berdua. Hadi terlihat begitu panik melihat orang terkasihnya tidak mampu bergerak sedikitpun. Semenjak kejadian itu Ia berjanji akan terus mendampingi dan melindungi Lika sampai kapanpun, ia tidak ingin bidadari hatinya terluka sedikitpun.

12 jam berlalu dan akhirnya Lika mulai sadar, ia meminta kedua orang tuanya untuk menemaninya di ruangan itu. Sejak saat itu Lika mulai takut kesendirian, padahal siapapun yang mengenali Lika sejak lama tahu bahwa Lika adalah gadis yang sangat pemberani dan mandiri, tak jarang ia pergi sendiri kemanapun. Hadi selalu menentang sikap terlalu mandiri Lika, tapi Lika selalu tersenyum dan berkata “nanti, kalau kita udah nikah terus kamu dinas ke luar kota masa iya aku harus nelpon kamu cuma buat nemenin aku belanja di pasar atau benerin pagar rumah.” Yang akan disusul oleh pelukan hangat Hadi. Sejak Lika sadar, Hadi belum bertemu dengannya karena ia harus menyusul les-lesnya untuk Ujian Nasional nanti.

3 hari kemudian Hadi baru bisa bertemu dengan Lika, ia diminta untuk menjaga Lika oleh orang tua Lika karena mereka ingin membereskan pekerjaan merekan selama menjaga Lika di rumah sakit. Hadi sangat antusias, ia amat-sangat merindukan bidadarinya. Saat Hadi datang Lika sedang tertidur, wajahnya lembut sekali seperti bidadari. Hadi mencium kening Lika pelan agar bidadarinya tidak terganggu dalam tidurnya. betapa ia merindukan gadisnya ini, ia sungguh menyayangi Lika. Ia tak akan pernah melepaskannya.

“Hadi, kamu ngapain?” tanya Lika pada pagi harinya

Hadi tersentak dari tidurnya “Eh, kamu udah bangun, Sayang?” jawabnya sambil menjepitkan rambut Lika di telinga.

Lika masih tak bersuara. Wajahnya kebingungan. Diperhatikannya sekeliling kamar rumah sakit tempat ia semalaman dirawat, ia tidak mengingat sama sekali kejadian apa yang telah menimpanya. Baru saja Hadi ingin menjawab pertanyaan gadisnya itu, Ibu Lika menghampiri mereka berdua.

“Lika, kamu sudah sadar, Nak?” tanya Ibu Lika sembari memeluk anaknya, sayang.

“Bu, aku boleh ngomong sama Ibu? Berdua?” ada tekanan di kalimat terakhir Lika sehingga membuat Hadi langsung menatap keduanya dan beranjak pergi tanpa diaba-abai.

Waktu terus berjalan, fisik Lika semakin membaik. Ia hanya dirawat dua hari. Namun, seminggu setelahnya, Lika seperti mempunyai masalah kesehatan lain di dirinya. Belakangan ini ia sering mengalamai disorientasi. Lika selalu telat datang ke sekolah, lupa mengerjakan PR, dan tugas, bahkan ia hampir terancam tidak bisa ikut Ujian Nasional karena ia datang terlambat. Untung saja Lika masih bisa lulus walau dengan nilai yang pas-pasan. Kondisi Lika makin memperihatinkan, ia mulai melupakan orang-orang terdekatnya, Hadi pun menjadi daftar orang yang tidak lagi diingat Lika sedikitpun. Hadi tidak mengetahuinya sama sekali tentang ingatan Lika, semenjak Lika sadar dari pingsannya waktu itu, Hadi tidak diperkenankan orang tua Lika untuk menemui Lika lagi. Pada tanggal spesial mereka berdua, Hadi hendak menemui Lika di rumahnya tapi ia malah mendapati Aga yang sedang duduk santai merangkul Lika. Bunga tulip pink kesukaan Lika pun jatuh begitu saja dari tangan Hadi, memecah kesunyian yang ada di ruangan itu.

Mereka berdua terperanga melihat kehadiran Hadi, terlebih lagi Aga. Bagaimana tidak, niat Aga mendatangi rumah Lika adalah untuk mengembalikan ingatan Lika tentang Hadi agar mereka dapat bersatu kembali, tapi Lika tidak menghiraukan Aga tentang ceritanya. Lika menganggap kehadiran Aga dengan bunga tulip pink di tangannya adalah kunjungan kekasih yang biasa dilakukan sepasang muda-mudi yang tengah dimabuk asmara. Waktu itu Aga ingin menolak pelukan Lika dan memberitahukan yang sebenarnya. Namun, orang tua Lika yang melihat mereka diam-diam dari balik tangga mengisyaratkan Aga agar tetap tidak memberitahu apa-apa. Hadi beranjak dari rumah Lika dengan perasaan yang tidak akan bisa ia gambarkan dengan kata-kata lagi.

Keesokan harinya, Aga membuat janji untuk bertemu Hadi, ia ingin menyelesaikan ketidakjelasan ini.

Pukul 22.00 WIB di bilangan Kemang ,Jakarta. Aga mendapati Hadi yang tengah duduk menopangkan dagu di satu tangannya.

“Di…” sapa Aga mencoba ramah sambil megulurkan tangannya. Beberapa detik. Dan tangannya masih tak disambut. Aga mengambil posisi duduk di depan Hadi. Ada kikuk di antara mereka berdua.

“Gue mau jelasin semuanya” ucap Aga membuka kesunyian di antara mereka.

Hadi membenarkan posisi duduknya, masih tak menatap Aga. matanya kosong, seakan hanya ada kebencian di sana.

“Lika sakit, Di.”

Hadi masih saja bungkam, sepertinya memang tidak ada lagi kata kasihan atau simpatiuntuk mereka berdua.

“Dia kena Dimensia Alzheimer.” Lanjut Aga. Hadi terbelalak mendengar ucapan Aga.

“Kemarin gue datang ke rumah Lika mau ngelurusin hubungan elo. Gue kasihan sama lo berdua, terutama elo, Di. Gue tahu lo cinta banget sama Lika. Makanya gue gak tega kalau kalian kayak gitu terus.”

“Tapi pas gue datang Lika malah menyambut gue seolah gue itu elo. Saat gue mau nolak pelukan Lika, gue diisyaratin sama orang tuanya untuk gak ngelakuin dan ngomong macam-macam dulu. Semalem Liak ngebahas hal-hal yang gak gue tahu dan gue yakin banget itu adalah hal-hal indah yang elo lakuin sama dia. Dia muji gue karena gue bawa tulip pink kesukaan dia, padahal gue aja tahu itu dari elo.”

“Terus kenapa gak ada yang ngasih tau gue, Ga?” tanya Hadi, kesal. Ada marah, kecewa, sekaligus sedih di matanya. Marah karena mengapa harus Aga yang Lika ingat sebagai kekasihnya, kecewa mengapa tidak ada satupun yang memberitahunya, dan sedih mengapa pula harus bidadari cantiknya yang mengidap penyakit itu. Hadi tak kuasa menahan kecewanya. Ia keluar dari kafe tempat ia dan Aga bertemu dengan langkah gontai sekaligus marah. Diraih helm dam jaketnya secara kasar, dinyalakannya mesin motor 250cc miliknya, digas dua kali lalu ia tak terlihat lagi.

Aga segera mengejar Hadi, khawatir bila teman baiknya itu akan mengambil tindakan bodoh. Ia tahu betul Hadi bukanlah sosok yang gampang terpancing amarah, tapi ia juga tahu bahwa Hadi akan berbahaya jika emosinya sudah tidak bisa dibendung. Mobil Aga berhasil menjegat motor Hadi. Aga segera turun dan menghantam wajah Hadi dengan pukulan penuh tenaga dari tangannya. Hadi membalas, lalu Aga tak membalasnya. Hadi menghantam sekali lahi bagian perut Aga, tapi Aga tak membalas lagi.

Hadi berhenti memberikan tinju kepada teman dekatnya, ia sadar apapun yang ia lakukan kepada Aga malam ini tidak akan pernah membuat ingatan Lika tentangnya kembali. Bahkan sekalipun ia membunuh Aga dengan tangan kosongnya sendiri, ia sadar bahwa Lika tidak akan kembali memeluknya.

“Lo mau tau kenapa gak ada yang ngasih tahu lo?” tanya Aga sambil menahan darah segar yang keluar dari hidungnya.

“Orang tua Lika tahu kalau elo mencintai anaknya dengan tulus. Dia gak mau lo kecewa dan bertindak gegabah. Mereka gak mau keadaan anaknya bertambah buruk. Dan soal Lika gak inget lo dan malah inget gue, gue pun gak paham.” Papar Aga

“Kalau lo gak suka, gue akan bilang sama orang tuanya Lika kalau gue gak bisa terus-terusan begini dan gue pun akan ngelejasin pelan-pelan ke Lika yang sebenarnya kalau gue…”

“Jangan!” Hadi memotong pembicaraan Aga.

“Gue cinta sama Lika, Ga. Gue gak akan mungkin sanggup lihat dia menderita lebih dari ini. Kalau memang dia bahagia dengan menganggap lo sebagai kekasihnya, gue ikhlas. Asal lo janji sama gue lo gak akan pernah bikin dia kecewa.” Jelas Hadi sambil terduduk lemas di samping motornya. Pandangannya kosong entah menatap apa dari atas flyover Jakarta yang lengang.

“Di…” Aga berusaha menghampirinya, tapi ia mengurungkan niat.

“Elo yakin?” tanya Aga menegaskan semuanya agar tidak ada lagi kesalah pahaman di antara mereka.

“Gue yakin, gue akan ngejagain Lika dari jauh, sementara dari deket gue minta elo buat lindungin dia selalu.” Ucap Hadi dengan sungguh-sungguh.

Aga tak lagi mengeluarkan satu katapun. Semenjak saat itu Hadi menjauhinya, ia tahu Hadi tak membencinya, Hadi hanya ingin Lika baik-baik saja. Aga juga tak pernah menyinggung tentang Hadi kepada Lika, ia tahu itu akan memperburuk kesehatan Lika. Sedangkan, ia sudah berjanji kepada Hadi untuk selalu melindungi Lika. Aga menepati janjinya, ia mempunyai kesabaran yang luar biasa. Menghadapi penyakit Lika tidak semudah yang ia bayangkan, selalu disalahkan dalam ketepatan waktu menjemput selalu ia rasakan, padahal jamnya sudah ia lebihkan 30 menit. Penyakit Lika-lah yang melenyapkan ingatannya. Penyakit Lika-lah yang menghadirkan jarak antara dua sahabat. Penyakit Lika-lah yang menelan habis indahnya kenangannya bersama Hadi. Penyakit Lika-lah yang meluluhlantakan seorang Hadi. Penyakit Lika-lah yang membuat Aga menjadi mencintainya. Penyakit Lika-lah yang membuat Hadi akhirnya bisa bertemu dengan bidadarinya lagi di tempat indah ini. Penyakit Lika-lah yang akhirnya membuat Hadi tersenyum kembali. Menyaksikan pernikahan Aga dan Lika dan datang dengan status sebagai teman dari Araga Prastama.

Fau’s

Aku Tunggu Kamu

Kamu percaya cinta akan datang karena terbiasa?

Atau cinta pada pandangan pertama? Atau cinta sejati? Atau mungkin cinta sampai mati?
Buatku semua sama, bertemakan cinta. Penuh merah muda. Dan bentuk hati semua.
Yag membedakan hanyalah dua insan yag ada di dalamnya.

Apa mereka bisa bertemu dengan cintanya, kemudian bersama, dan berbicara cinta sejati sampai mati?
Semua tergantung seberapa kuat tempurung mereka menyatu.
Berada dalam satu tempat yg sempit yg mereka sebut hati tidak semudah corat-coret kanvas putih.
Butuh komunikasi untuk tidak saling menginjak apalagi sampai melukai.
Tak boleh ada satu orang lagi jika mereka tak mau saling bergeser.
Mereka harus hadapi kuatnya ombak pantai berdua. Ya, berdua. Hanya berdua.
Memang bisa tempurung hanya berenang dengan satu kaki? Dia bukan akrobatik.
Mereka harus berjalan dengan tujuan yg sama walau aku tau kaki tak mungkin melangkah langsung dua-dua, tapi mereka harus saling menyusul.
Kamu ingin mengisi ruang di tempurungku?
Sudah aku bersihkan dari pasir pantai, kamu mau aku jemput?
Tapi tunggu, aku hanya punya satu kaki dan kau pun sama, jadi kita tak mungkin saling menghampiri. Bagaimana kalau aku tunggu di tempat indah nanti, di sebuah karang yg keras di pinggir pantai. Hanya kita dan masa depan kita.

Hujan di Hari Minggu

Hujan di hari minggu

Mengepakkan ingatan akan masa lalu

Tentang tubuh yang pernah merasa utuh

Tentang cinta yang indah dahulu

Tentang jarak yang bukan masalahmu

Hujan di hari minggu

Menjatuhkan semua sedihku

Dibiarkannya mengenang

di manapun asal tidak di diriku

dibiarkannya menguap agar hilang perih seluruh

Hujan di hari minggu

Membujukku agar tak ke mana

Pun melangkah sedikt

Menikmati maya yang tak pernah nyata

Huajn di hari minggu

Ada pria yang menyapa dengan aksara sederhananya

Pria yang kunamai matahari:

Yang mengambil seluruh sedihku

Lalu diubahnya menjadi semangat yang menggebu